Berita 05 Mar 2026

Penutupan Selat Hormuz Guncang Pelayaran Dunia

Iran telah resmi mengumumkan penutupan Selat Hormuz. Hal ini disampaikan oleh Komandan Korps Garda Revolusi Iran Ebrahim Jabari pada Senin, 2 Maret 2026.

Melansir dari laman Aljazeera, Ebrahim menyampaikan penutupan Selat Hormuz dan memperingatkan bahwa kapal apa pun yang mencoba melewatinya akan diserang. Ini dapat mengguncang pelayaran dunia sebab Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pelayaran paling vital di dunia, terutama untuk minyak dan gas.

Seberapa Krusial Selat Hormuz Bagi Pasar Dunia?

Selat Hormuz berperan krusial bagi pasar energi dunia karena terdapat 20% minyak laut dunia melewati jalur ini. Namun, melansir dari laman Thejapantimes, para analis meyakini penutupan akses yang diancamkan Iran tidak akan berpengaruh terhadap rute utama pelayaran Asia-Eropa, sebab kawasan Teluk berakhir seperti jalan buntu di pesisir Kuwait, Irak, dan Iran.

Meski begitu, selat ini berperan vital bagi seluruh perdagangan regional karena menjadi akses menuju Pelabuhan Jebel Ali di Dubai, terminal peti kemas terbesar ke-10 di dunia yang menjadi pusat distribusi ulang bagi berbagai negara di kawasan.

Menurut Wakil Presiden Serikat Perusahaan Pengangkutan Prancis TLF Anne-Sophie Fribourg, bongkar muat kapal-kapal kontainer di Jebel Ali dilakukan untuk kemudian dikirim ke berbagai negara, mulai dari Afrika Timur hingga India, terang Wakil Presiden Serikat Perusahaan Pengangkutan Prancis TLF.

Apakah Pernah Ditutup?

Selama ini, Selat Hormuz terbuka untuk kegiatan komersial. Bahkan, menurut Direktur French High Institute for Maritime Economy Paul Tourret, selama perang antara Iran dan Irak pada 1980-1988, jalur pelayaran komersial tetap berjalan meskipun terjadi serangan terhadap kapal tanker minyak.

Menurut Direktur Riset di Pusat Studi Strategis Angkatan Laut Prancis, pembekuan barang-barang yang transit pada Selat Hormuz disebut sebagai hal yang belum pernah terjadi. Sejak Israel dan Amerika Serikat (AS) melancarkan serangan terhadap Iran pada Sabtu, 28 Februari 2026, perusahaan pelayaran terbesar di dunia seperti MSC (Italia-Swiss), Maersk (Denmark), CMA CGM (Prancis), Hapag-Lloyd (Jerman), dan Cosco (Tiongkok) memerintahkan kapal-kapal mereka untuk berlindung dan mengutamakan keselamatan.

Pada Peta Marine Traffic yang melacak pergerakan kapal-kapal dunia terlihat kelompok-kelompok kapal, terutama tanker berlabuh jauh di utara dekat Kuwait, serta di lepas pantai dekat Dubai. Armada niaga Iran juga terlihat berada di lepas Pelabuhan Bandar Abbas pada sisi lain selat tersebut.

Barang Apa Saja yang Melewati Hormuz?

Jerman mengirim mobil, mesin, dan produk industri melalui selat ini. Sementara, Prancis terutama mengekspor sereal dan produk pertanian, kosmetik, barang mewah, serta farmasi.

Di sisi lain, Italia mengekspor produk makanan serta marmer dan keramik dalam jumlah besar, kata Fribourg dari TLF.

Sebaliknya, selain minyak dan gas yang menjadi bahan baku pupuk dan plastik, kawasan Timur Tengah menyumbang sekitar 9% produksi aluminium primer dunia, yang hampir seluruhnya diekspor, menurut TD Commodities.

Apakah Akan Terjadi Keterlambatan dan Kenaikan Harga?

Beberapa platform belanja daring telah memperingatkan pelanggan mereka bahwa waktu pengiriman bisa jadi meningkat. Biaya pengiriman barang sudah mulai meningkat akibat biaya tambahan yang dikenakan perusahaan pelayaran untuk transit di kawasan tersebut.

Untuk rute Eropa–Asia, kapal-kapal juga tidak lagi menggunakan jalur melalui Laut Merah dan Terusan Suez karena kekhawatiran akan serangan lanjutan oleh sekutu Iran di Yaman, yakni kelompok Houthi. Berputar melalui Tanjung Harapan di ujung Afrika Selatan menambah sekitar 10 hari pelayaran dan meningkatkan biaya sekitar 30%.

(Disarikan dari aljazeera.com dan japantimes.co.jp oleh Mochammad Alwi Hidayat)

Kembali
img