News 10 Apr 2026

Pelabuhan Peti Kemas Indonesia Perkuat Investasi dan Layanan untuk Dukung Pertumbuhan Berkelanjutan

Pelabuhan peti kemas utama di Indonesia memperkuat investasi dan layanan pada berbagai aspek untuk mendukung pertumbuhan berkelanjutan. Hal ini dilakukan melalui pengembangan berbagai fasilitas.

Penguatan investasi dan layanan ini dilakukan seiring dengan pertumbuhan kinerja perdagangan yang solid pada tahun 2025. Berdasarkan data arus peti kemas PT Pelindo Terminal Peti Kemas (TPK) yang mengelola bisnis terminal peti kemas milik BUMN PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo), menunjukkan bahwa sebanyak 13,3 juta TEUs ditangani di 32 fasilitas pada 2025, dibandingkan dengan 12,5 juta TEUs pada 2024 atau meningkat sebesar 6,9%.

Arus Peti Kemas Domestik dan Internasional

Melansir dari Worldcargonews.com, laporan akhir tahun Pelindo TPK menyebutkan bahwa peningkatan kinerja didorong oleh pertumbuhan ekonomi nasional, program industrialisasi, serta peningkatan peran Indonesia dalam perdagangan global.

Dari aspek domestik, peningkatan volume didorong oleh peralihan pengiriman barang dari sistem breakbulk ke pengiriman berbasis kontainer. Angkutan domestik berhasil menyumbangkan 67% (lebih dari 8,9 juta TEUs) dari total arus peti kemas yang ditangani Pelindo TPK pada tahun 2025 berupa cabotage dan lalu lintas antarpulau. Pencapaian volume ini didukung oleh renovasi dan pengembangan infrastruktur seperti penambahan crane ship-to-shore dan peralatan operasional lapangan.

Kemudian, dari aspek internasional, volume kargo internasional meningkat 10,3% pada 2025 menjadi lebih dari 4,4 juta TEUs. Sekretaris Perusahaan Pelindo TPK Widyaswendra menyoroti kinerja Terminal Teluk Lamong (TTL) di Gresik yang menambah lima layanan baru sepanjang tahun, sehingga arus peti kemas internasional meningkat 25% menjadi 382.612 TEUs. Secara total, TTL menangani 2,83 juta TEUs, naik 6% dibandingkan 2024. Kinerja positif lainnya juga pada TPK Semarang, terutama pada arus perdagangan ke Korea Selatan, Amerika Serikat, Jepang, dan China.

Konektivitas Tanjung Priok Semakin Kuat

Tanjung Priok sebagai pelabuhan terbesar Indonesia mencatat peningkatan arus peti kemas sebesar 5,7% menjadi 8,03 juta TEUs. Kinerja ini didukung oleh meningkatnya perdagangan dengan China dan negara-negara BRICS.

Selain itu, penandatanganan IEU-CEPA (Comprehensive Economic Partnership Agreement) dengan Uni Eropa pada 23 September 2025 menjadi tonggak penting pada penghapusan tarif pad 98,5% produk ekspor kedua belah pihak. Kesepakatan ini berlaku mulai 1 Januari 2027 dan diyakini dapat mendorong ekspor Indonesia seperti minyak sawit, kopi, alas kaki, perikanan, tekstil, dan pakaian, sekaligus menarik investasi dari negara-negara Uni Eropa.

Kemudian, investasi pemerintah dan swasta dalam industrialisasi juga menjadi faktor penting dalam meningkatkan arus perdagangan. Ekonom Senior Institute for Development of Economics and Finance Didik Rachbini menegaskan bahwa sektor industri khususnya manufaktur akan meningkatkan perdagangan, nilai ekspor, dan lapangan kerja. Ia menyoroti keberhasilan program hilirisasi nikel dengan nilai ekspor produk turunan nikel mencapai US$33,9 miliar pada 2024, meningkat drastis dari US$3,3 miliar pada 2017.

Mengejar Ketertinggalan

Investasi pada infrastruktur jalan, rel, pelabuhan, pusat logistik, dan jaringan distribusi terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Hal ini mendorong perusahaan pelayaran global dan logistik untuk memperluas layanan serta berinvestasi di Indonesia.

Namun, infrastruktur logistik Indonesia masih tertinggal dibanding negara pesaing yang menyebabkan biaya logistik relatif tinggi dan dampak lingkungan masih signifikan. Mitra Pengelola PH&H Public Policy Interest Group Agus Pambagio menekankan pentingnya peningkatan infrastruktur pelabuhan serta sinkronisasi kebijakan untuk mendukung iklim investasi.

“Perlu dilakukan peningkatan infrastruktur pelabuhan dan fasilitas pendukung lainnya untuk meningkatkan daya saing nasional,” ujar Agus Pambagio.

Pengembangan Terminal Kalibaru

Salah satu proyek besar yang dilakukan adalah pengembangan Terminal Kalibaru dengan membangun breakwater sepanjang 6 km, reklamasi 374 hektar, dan pembangunan empat terminal peti kemas. Proyek ini akan menambah kapasitas Tanjung Priok sebesar 5-6 juta TEUs per tahun. 
Di samping itu, peralatan baru juga telah dibeli untuk memastikan peningkatan volume kargo bisa ditangani dengan efisien. Fase kedua proyek ini tengah berlangsung dan dapat menambah kapasitas sebesar 1,5 juta TEUs per tahun.

Modernisasi Terminal

New Priok Container Terminal One (NPCT1) terus meningkatkan kapasitas dan efisiensi operasional melalui penambahan crane, e-RTG, hingga traktor terminal berbasis listrik. Terminal ini juga mengembangkan sistem energi terbarukan dan ditargetkan dapat mengurangi emisi karbon sebesar 50% pada tahun 2030.

TPK Koja, JICT, dan BCT juga melakukan modernisasi peralatan serta peningkatan kapasitas untuk mendukung kelancaran logistik nasional.

Indonesia Dilirik Penyedia Logistik Global

Dalam dua belas bulan terakhir, Grup AP Moller Maersk meningkatkan dan memperluas jaringan pelayaran dan logistiknya di Indonesia, sementara perusahaan rantai pasok global asal Amerika Serikat, AIT Worldwide Logistics, membuka kantor pertamanya di Indonesia. Lokasi strategis Jakarta yang dekat dengan bandara internasional dan pelabuhan utama menjadikannya pusat penting untuk ekspansi logistik regional.

Peningkatan Layanan Pelayaran

Dalam bisnis pelayaran liner utamanya, Maersk secara signifikan memperluas jaringannya di Indonesia, terutama sebagai respons terhadap pertumbuhan perdagangan intra-Asia. Perusahaan ini telah memperluas cakupan melalui layanan langsung dan shuttle. Maersk terus memperkuat bisnis di Jakarta dan Surabaya sekaligus menghubungkan kawasan ekonomi yang sedang tumbuh seperti Semarang dan Batam untuk mendukung perubahan pola produksi.

(Disarikan dari www.worldcargonews.com oleh Mochammad Alwi Hidayat)

Back
img